Sabtu, 05 Maret 2011

truly best friends part 1


aku pikir hari ini hingga lusa adalah hari kami bertiga untuk tetap bersama. Aku, Miya dan Lisa. Tapi ternyata tidak. Hari ini Lisa meninggal, aku dan Miya tentu saja tidak percaya. Padahal kami telah berjanji agar menjadi teman selamanya. Meninggalnya  sahabatku, Lisa , merupaka kejadian yang sangat tiba-tiba. Kata orangtuanya Lisa tertusuk oleh orang yang bilang ke polisi “aku ingin menusuk orang siapapun itu gyahahahaha” tentu saja pernyataan orang ini membuat  aku, Miya dan orangtua Lisa shock. Dan pada akhirnya orang ini masuk penjara.

Seminggu kemudian…

                “soal berikutnya bagaimana kalau Miya , ayo Miya kerjakan di papan tulis” kata bu guru. Tidak ada respon samasekali dari Miya. Aku heran. Biasanya dia akan langsung mengerjakan apa yang guru katakan kepadanya.
                “Mi.. kerjain tuh, bu guru sudah menyuruhmu tadi” kataku mengingatkan. Aku kaget. Miya samasekali tidak merenspon apa yang aku omongkan lebih tepatnya aku diabaikan. Kulihat matanya, begitu tidak ada cahaya untuk hidup. Rasanya gelap.
                “baiklah kalau Miya tidak bisa  mengerjakan kalau gitu kamu saja Ayumi” kata bu guru.
                “baik bu” jawabku sambil maju kedepan

~(>_<~)(~>_<)~

                Bel istirahat berbunyi. Dengan segera aku menanyakan kepada Miya ada apa yang terjadi tadi. Ku dekati mejanya lalu kulihat wajahnya. Masih tetap seperti tadi. Dingin dan terasa aura gelap
                “miya tadi kamu kenapa? Kok ga kaya biasanya sih?” tanyaku perlahan. Tiba-tiba dia mengebrak meja dan meninggalkan ku begitu saja. Ada apa ini? Apa aku berbuat salah? Aku benar-benar binggung dengan kelakuan Miya yang tidak biasanya itu.
                “apa kalian bertengkar ?”Tanya Sisca teman sekelasku.
                “tidak juga sebenernya haha” kata ku santai tapi sebenarnya aku khawatir dengan keadaan Miya.
                “benarkah? Baiklah kalo gitu, hey kalo katamu kali ini club volunteer akan membuat patung seperti apa yaa? Mungkin binatang seperti tahun kemarin bagaimana menurutmu?” Tanya Sisca.
                “kalo kata aku sih sepertinya mereka membuat patung manusia deh eh tunggu dulu kenapa bunga-bunga di depan jendela rusak?apa semalam ada anjing liar yang mengacak-acak kebunnya yah?” tanyaku heran.
                “eh itu kata orang-orang Miya yang melakukannya. Tapi aku tidaktau juga”jawab Sisca. Aku kaget. Kenapa Miya melakukannya?
                “hah? Masa sih? Aku tidak percaya itu” kataku sambil tetap shock
                “iya awalnya aku juga tdak mempercayainya tapi aku juga tidak tau juga itu benar apa engga. Menurutmu apa Miya sekarang sedikit aneh ?Seperti bukan Miya yang biasanya” kata Sisca cemas.
                “masa sih ? aku… aku akan menanyakannya pada Miya sekarang” kataku pergi meninggalkan Sisca.
                “aah tunggu Ayumi” kata Sisca. Aku tidak memperdulikan perkataan Ayumi. Aku berlari kesana-kemari mencari Miya. Aku benar-benar cemas. Tapi anehnya aku tidak menemukannya dimanapun! Ada apa ini? Sebenarnya dia kemana sih? Lalu aku berlari lagi kearah lapangan. Disana aku menemukannya. Sendirian sedang menatap langit dengan pandangan kosong. Serasa hidup itu sudah berakhir. Lalu aku duduk disampingnya.
                “Miya kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kenapa kamu berubah?” tanyaku. Sebenarnya aku ingin saja menanyakan tentang kebun di dekat jendela, mengapa dia sampai menghancurkannya. Dia hanya diam. Tidak menjawab pertanyaanku maupun melihatku.
                “Miyaaa denger ga sih? Kamu kenapa ? kenapa berubah ?”kataku agak berteriak. Tiva-tiba Miya berdiri dan meninggalkanku begitu saja.

(__IIIII)……………….

Keesokkan harinya. Saat aku melihat koran, tak sengaja aku menemukan artikel dengan foto orang yang membunuh Lisa. Otomatis aku langsung melihat artikel itu. Betapa kagetnya aku ternyata pembunuh yang membunuh Lisa kabur dari penjara. Itu artinya mungkin saja pembunuh itu sedang berkeliaran dan mau membunuh lagi. Ini gawat.
                “Ayumiiii .. mau sampai kapan kamu terus membaca koran? Nanti telat sekolah loooh ayo cepat berangkat nak” kata Mama lembut
                “ah iya ma” kataku sambil membenarkan tali sepatu. “aku berangkat yaaaa dadaaah mama” kata ku sambil berlari. Di jalan aku berfikir tentang keanehan Miya. Bukan keanehan, lebih tepatnya perubahan. Apakah karena kematian Lisa, Miya jadi berubah ? memang sampai sekarang aku masih shock dan tidak memaafkan pembunuh itu, tapi aku mencoba untuk mengikhlaskan kematian Lisa walaupun itu berat. Aku akan mencoba bertanya kepadanya sekali lagi mengapa dia berubah.

                Saat sampai di sekolah dan hendak mencari Miya, Sisca memanggilku dengan panik.
                “Ayumi kali ini kamu harus lihat, kelakuan Miya dengan anak-anak grup nakal itu. kumohon.. ikutlah denganku sekarang” kata Sisca panic seraya memegang lenganku agar cepat bergegas pergi.
                “APA ? Miya dengan grup anak nakal itu? tapi apa yang meraka lakukan?  Apa mereka akan membullying orang lagi ?” kata ku ikutan panik sambil pergi berlari mengikuti Sisca.
                “aku tidak tau tapi sepertinya iya, ayo cepat kita harus menyadarkan Miya dan membantu anak yang di bullying.
                “iya ayo cepat”kataku lagi..

m(O_O )m( O_O)m

                “hiks .. kumohoin hentikan ja-jangan siksa aku lagi”pinta anak itu
                “salah sendiri, kamu mengotori  pakaian Rachael. Sudah sepantasnya kamu itu mendapatkan itu tau”kata salah satu dari anak grup anak nakal
                “iya hahaha itu benar nah rasakan ini kyahahaha” kata Rachael, ketua grup anak nakal, sambil menumpahkan isi ember yang berisi air lumpur.
                “kyaaaa aku mohooon, hentikan jangan aaaah”kata anak itu lagi dengan pasrah.
                “hahahahahahahahahaha yang salah memang harus dihukum”kata grup anak nakal sambil tertawa dan menyirami dengan air lumpur.

                Aku hanya diam menyaksikan kejadian itu. tidak heran grup anak nakal itu melakukannya. Sebenarnya aku ingin sekali membantu anak itu tapi apa daya. Jika aku yang membantunya berikutnya mereka akan menyiksaku. Aku sangat tidak  mau. Sebab dulu aku juga pernah di bullying oleh mereka dan itu sangat menyiksa.
                “kasian sekali si Miko itu, bayangkan hanya gara-gara dia tidak sengaja menyenggol dan membuat kotor sedikit saja baju Rachael , grup mereka langsung membullying Miko. Sungguh kejam”kata Sisca sambil berbisik-bisik. Aku hanya diam menanggapi apa yang dikatakan Sisca padaku . perhatianku tertuju pada Miya. Miya rupanya telah ikut grup anak nakal itu. hatiku rasanya kecewa. Lalu kulihat lagi ternyata grup itu sudah mau bubar meninggalkan Miko yang sedang menangis kedinginan. Tiba-tiba Miya berbalik badan dan mengatakan sesuatu.
                “Miko, kau itu dari club volunteer kan? Bagaimana kalau nanti kau bereskan yang ‘disitu`, jika tidak kau tau kan apa yang terjadi hahaha” kata Miya sambil pergi meninggalkan Miko dengan tertawa. Lalu dia berjalan kearahku. Aku diam karena aku kesal kepadanya. Miya juga memandangku dengan tatapan kosong dan dia berjalan melewatiku dengan diam tanpa menyapa atau sebagainya. Sebenarnya aku ingin sekali bertanya kepada Miya kenapa dia berubah sekali  lagi. Tapi kupikir sekarang bukan waktu yang tepat

bersambung  lagi karena pengarangnya males nulis lagi haha :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih udah memberi komentar tolong supaya komentarnya sopan yaa biar ga dispam makasih banget sebelumnya :D